Film Negeri Lima Menara Tutup Peringatan Nuzulul Qur'an
TAMANSARI, (KP).-
Para Pemuda yang tergabung dalam S-QUAD dan Alihema menutup peringatan malam Nuzulul Qur'an dengan pemutaran Film Negeri Lima Menara, di halaman Masjid Miftahussyamsudin, kemarin malam.
Sebuah film yang mengisahkan pentingnya semangat
'Man Jadda Wajada' yang berarti 'siapa yang bersungguh-sungguh pasti
akan berhasil', disuguhkan kepada para peserta training center ramadan (TCR) ke-3 dan pemuda
pemudi dari Sumelap, Tamansari, Gobras, Madewangi, Palahan, Situdukun, Sumurdago.
Suasana malam itu pun tampak berbeda
karena halaman Masjid dijejali penonton.
Ketua Training Center Ramadan (TCR) ke-3, Sony Rojab (Zes't) mengatakan, banyak makna yang bisa
diambil tauladan dari film tersebut. Kisah enam orang anak yang mondok
di Pesantren Madani ini memiliki cara berpikir visioner dan bercita-cita
besar. "Mereka, memiliki ambisi untuk menaklukan dunia. Dari tanah
Indonesia, Amerika, Eropa, Asia hingga Afrika. Dibawah menara Madani,
mereka berjanji dan bertekad untuk bisa menaklukan dunia untuk mencapai
cita-cita, menjadi orang besar yang bisa bermanfaat bagi banyak orang,"
terangnya.
Makanya, ungkap Sony, pemutaran film yang disadur dari Novel Karya Ahmad
Fuadi ini, dimaksudkan agar para peserta traning center ramadan Masjid
Taklim Miftahussyamsudin memiliki cita-cita besar seperti yang dikisah
dari Film Negeri Lima Menara tadi. "Semoga saja, karena inspirasi bisa
didapat dari manapun, termasuk dari film," ucap Sony.
Rabu, 31 Juli 2013
Ngabuburit Ala Pemuda Pilemburan
Banyak cara untuk menanti datangnya Adzan Maghrib. Selain mengunjungi pusat keramaian di Kota Tasikmalaya seperti Alun-alun, Dadaha, dan pusat perbelanjaan atau sekedar keliling Kota dengan mengendari roda dua, penantian tibanya waktu maghrib itu menjadi kebiasaan disetiap bulan Ramadan.
Namun, beda sekali jika mengunjungi salah satu Kampung di Kelurahan Setiamulya Kec. Tamansari, yakni Palahan. Para pemudanya mengisi kegiatan 'Ngabuburit'nya itu dengan mengadakan bazar sederhana warga yang diramaikan pentas musik band pemuda disana.
Pengunjung pun tak kalah ramai dengan pusat-pusat keramaian Kota, apalagi tontonan band atau sekedar melihat produksi olahan warga tidak dipungut biaya. "Tiap hari sekitar 100 sampai 200 orang ada meski sekedar menonton suguhan musik band," ujar Kuswasdi, Ketua Pemuda Palahan, Minggu (28/7).
Menurut Kuswadi, Untuk menyiapkan acara panggung ngabuburit dan bazar warga tersebut bukannya tanpa halangan. Selain minimnya biaya, juga mencari peserta bazar yang memproduksi kerajinan warga asli dan makanan olahan pun tidak lah mudah. Pasalnya, produksi tersebut masih tradisional, dalam artian membuat tapi sekedar dijual di warung-warung kecil. Tapi, berkat penjelasan berkesinambungan, warga pun sedikit demi sedikit berani memamerkan olahannya meski dalam bungkusan seadanya. "Ya ada rangginang, opak, seupan cau, dorokdok, kolek sampeu dan sebagainya. Adapun untuk karya kerajinan masih diseputar kelom, sandal dan anyaman mendong," paparnya. E-37***
Langganan:
Postingan (Atom)
