Selasa, 30 Juli 2013

Curug Seharga Rp 1 Miliar Terbengkalai

Curug Seharga Rp 1 Miliar Terbengkalai


JIKA anda mengunjungi daerah ujung Kecamatan Tamansari, tepatnya di Kelurahan Setiawargi, 7 kilo meter dari pusat kecamatan, Pasar Gegernoong, anda akan menjumpai objek wisata baru di Kota Tasikmalaya, yaitu Curug Tonjong.
Curug tersebut awalnya merupakan curug biasa yang belum mendapatkan sentuhan dari pemerintah. Namun karena potensi wisatanya cukup tinggi, maka pada tahun 2010 lalu, Curug Tonjong ini mulai ditata.
Melalui Program Lingkungan Pedesaan Berbasis Komunitas (PLPBK), curug ini mendapatkan kucuran dana sebesar Rp 1 miliar. Kucuran dana yang tak sedikit ini, sumber dananya berasal dari Program Nasional Pemberdayaan Mandiri (PNPM) Kota Tasikmalaya tahun 2010.
Namun ironisnya, setelah ditata dengan dana yang tak sedikit, justru saat ini kondisi Curug Tonjong malah terbengkalai. Sejak dibangun tahun 2010 lalu, hingga saat ini belum terlihat ada wisatawan yang datang.
Hal ini memang cukup masuk akal mengingat infrastruktur di kawasan Curut Tonjong ini masih belum memadai, seperti akses jalan yang masih jelek, serta tangga menuju curug yang masih belum aman. Apalagi saat ini, Curug Tonjong mengalami kekeringan sehingga tak ada yang bisa "dijual" karena objek wisata utamanya mengalami kekeringan.
Tak hanya itu, lokasi untuk parkir roda dua dan empat pun tidak ada. Pengunjung hanya mendapat parkir dipelataran rumah penduduk. Selain itu, untuk sampai ke lokasi Curug, pengunjung harus menuruni anak tangga yang jumlahnya mencapai sekitar seribu tangga yang kalau kondisi hujan sangat licin akibat tanah merah pegunungan.
Untuk kembali ke pelataran parkir di rumah penduduk pun tak semudah saat turun. Tingginya konstruksi tangga yang mencapai 0,5 meter membuat pengunjung "ngos-ngosan" akibat medan yang berbelok - belok.
Setibanya dilokasi, batuan terjal akan dijumpai dengan gazebo (saung) yang tidak terawat. "Teu aya nu ngunjungi pisan pak, komo halodo kieu," ujar Majid (55), warga setempat.
Menurut Majid, pembangunan Curug Tonjong sempat membuat warga sumringah. Pasalnya, sedikit tidaknya akan membantu perekonomian warga sekitar. Tetapi karena akses jalan yang rusak, ditambah musim kemarau, punah sudah harapan itu. "Teras oge jalanna anu nanjak mudun, teu acan tangga anu curam kitu," tuturnya.
Tak hanya Majid, Een (45) warga yang membuka warung di lokasi curug mengaku, selama membuka usaha di tempat itu, selalu saja sepi pembeli. Pengunjung sama sekali tidak ada kecuali warga sekitar yang mencari air. "Tadi na mah mamanawian pajeng. Eh pengunjungna ge teu aya," terang Een.

Turun Tangan
Kepala Dinas Pariwisata Kota Tasikmalaya, Tantan Rustandi mengakui kondisi Curug Tonjong yang terbengkalai tersebut. Dia juga menyayangkan, mengigat dana yang dikeluarkan mencapai Rp 1 miliar.
Pihak Dinas Pariwisata sendiri, kata Tantan, selama ini tak pernah dilibatkan dalam pembangunan objek wisata tersebut, karena proyeknya berasal dari PNPM. "Karena proyek PNPM, kami pun tidak bisa ikut dalam pembangunan tersebut" ujarnya.
Kendati demikian, secepatnya Ia akan berkoordinasi dengan Dinas Cipta Karya untuk memperbaiki akses jalan ke lokasi. "Hal promosi juga sangat diperlukan, karena masih banyak yang belum tahu, termasuk orang Tasik," ucap Tantan.
Dia mengatakan, agar Curug Tonjong ini bisa dikenal dan didatangi oleh wisatawan, maka masih banyak hal yang perlu dibenahi. "Selain promosi yang harus gencar, juga perlu gapura dan petunjuk-petunjuk ke lokasi agar pengunjung tidak direpotkan ketika ingin ke Curug ini," paparnya.
Keberadaan Curug Tonjong sendiri menurut Ketua Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Setiawargi, Tanu belum begitu berdampak pada peningkatan ekonomi baru. Tanu yang juga pelaksana pembangunan Curug Tonjong, menginginkan pemerintah untuk mengambil alih pengelolaan curug ini.
"Harus ada perhatian serius, dan semua pihak duduk bersama agar tidak terus terbengkalai," katanya. (Jani Noor/"KP")***

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum ( Habis )

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum ( Habis )


Laporan: Jani Noor
Wartawan HU. Kabar Priangan

Situ Cibeureum, Kini tak Lagi Angker

Pesatnya kemajuan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah, salah satunya dengan penataan Situ Cibeureum, membuat situ ini menjadi lebih terlihat indah, asri, dan nyaman dari sebelumnya. Langkah ini dilakukan agar wisatawan yang da­tang ke tempat ini merasa nyaman.
Dampak dari penataan ini, meski belum secara res­mi dijadikan sebagai ob­jek wisata, namun setiap minggu atau hari libur, Situ Cibeureum selalu kebanjiran pengunjung. Wa­rung-warung pun ber­mun­culan, termasuk penataan situ dengan dibangunnya tem­pat penahan tebing (TPT) di sepanjang pinggir situ.
Jika musim kemarau, keti­ka kondisi situ menge­ring, maka arela ini dijadi­kan tempat main bola, juga ladang rumput untuk pa­kan hewan. Tetapi kalau mu­­sim hujan seperti se­ka­rang ini, maka Situ Cibeu­reum bisa membawa ber­kah bagi warga setempat, termasuk para pemancing ikan.
Kuncen Atang pun mengakui, karena seringnya didatangi pengunjung, maka keangkeran Situ Cibeureum juga lambat laun punah. Masyarakat sudah tidak lagi mensakralkan situ sehingga leluasa berbuat apapun.
Namun hilangnya ke­ang­ke­ran situ, kata Atang, malah dijadikan kesempatan oleh pengunjung yang tak bertanggungjawab untuk berbuat seenaknya. Kawasan situ pun dijadikan sebagai tempat pacaran. Bahkan entah berapa kali dijumpai, banyak pasangan yang berbuat tak senonoh di lokasi situ.
"Tos warani budak ayeuna mah. Sampah dipiceunan ka situ, teras situ teh dijadikeun tempat bobogohan. Malih mah osok oge nu ngadon marabok," keluh Atang.
Selain di lokasi Situ, di lokasi Makam Keramat Ki Bagus Djamri pun, lanjut Atang, dijadikan tempat “pamusyrikan”.
Bongkahan batu dan tanah yang suka dibawa peziarah dan ditemukannya sejumlah ajimat (isim) di pemakaman, menjadi bukti bahwa masya­rakat sekarang sudah tidak menggangap lagi nilai-nilai sakral Situ Cibeureum.
"Sok wae papantes ku pamarentah, tapi titip tong cawokah wae da meureum dimana-mana oge situ teh geus robah kualatan pamarentah," pungkas Atang.***

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum (4)

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum (4)


Laporan : Jani Noor
Wartawan HU. Kabar Priangan

Yang “Cawokah”, Harus Dirajah
"Ulah cawokah (sombong-red) la­mun keur di situ". Begitulah pesan se­bagian warga yang tinggal di sekitar Situ Cibeureum, Kota Tasik­ma­la­ya. Mereka percaya bahwa jika ada pe­­ngunjung yang kata-katanya sompral saat berada di situ, maka bisa sial.
Menurut warga, kejadian yang menimpa pengunjung yang cawokah bisa bermacam-macam, mulai dari kecebur situ, menginjak kotoran, hingga meninggal dunia. Bahkan banyak pula pengunjung yang kesurupan gara-gara “maceuh” saat berada di lingkungan situ.
Kuncen Situ Cibeureum, Atang (60) membenarkan kepercayaan war­ga seperti itu. Bahkan Atang pun selalu mewanti-wanti kepada pengunjung yang datang agar tak sombong dan takabur saat berada di situ.
Dia mencontohkan ketika beberapa waktu lalu ada dua orang pengunjung asal Kawalu dan Simpang Lima Kota Tasikmalaya. Dua pemuda ini sedang jalan-jalan di area pinggir situ. Namun tingkah mereka sangat ceroboh. Setiap ada batu, dilempar ke tengah situ, dan berteriak dengan lepasnya sambil tertawa.
Atang pun menghampiri dua orang itu, dan memperingatinya untuk tidak “cawokah” kalau di Situ Cibeu­reum. "Ah tahayul mang," ucap orang itu. Atang pulang ke rumahnya di Kp. Ma­lingping Kel. Ta­manjaya Kec. Ta­mansari. Namun, selang beberap jam dari sana, warga sekitar Situ men­datangi dia bahwa ada dua orang tidak dikenal kesurupan.
Entah siapa yang mengobati, dua orang tersebut kem­bali normal, lalu beranjak meninggalkan Situ Ci­beu­reum. Selang beberapa hari dari keja­dian itu, tersiar kabar bahwa dua orang yang sempat kesurupan tadi sakit parah sehingga atas saran war­ga, Situ Cibeu­reum harus dirajah (dijam­­­pe-jampe). "Nya nguping mah du­gi ka aya nu maot sagala," ujar Atang.
Selain menimpa dua orang asal Saguling dan Sim­pang Lima, kejadian aneh menimpa pengunjung pun kerap terjadi. Salah­sa­tunya, ungkap Atang, para pelajar yang berkemah di Nusa Pangepulan (Sekarang Bumi Per­kemahan).
Jika berkemah tidak me­minta izin sebelumnya, pas­ti ada kejadian aneh seperti kesurupan. “Yang paling sering terjadi adalah kasus kesurupan,” katanya. Na­mun menurutnya, bukan berarti Situ Cibeureum ini angker dan tak ramah terhadap pengunjung.
“Selama pengunjungnya bersikap sopan dan tidak neko-neko, mereka baik-baik saja dan bisa menik­mati situ ini dengan nyaman. Bahkan banyak warga yang bisa mendapatkan ba­nyak ikan dari situ ini,” kata Atang. (Ber­sambung)***

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum ( 3 )

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum ( 3 )

Laporan : Jani Noor
Wartawan HU. Kabar Priangan

Si Kohkol Pembawa Rejeki
Dalam tulisan sebelumnya, disebutkan bahwa masyarakat yang berada di sekitar Situ Cibeureum mempercayai adanya Si Layung, ikan sejenis Ikan Mas yang disebut-sebut sebagai penunggu atau “anu ngageugeuh” Situ Cibeureum.
Dan selain Si Layung, warga pun ada juga yang mempercayai bahwa di situ ini ada pula Si Kohkol, seekor Ikan sejenis Ikan Deleg yang kerap muncul jika kondisi air situ sedang melimpah. Bahkan Si Kohkol ini bisa muncul seminggu sekali.
Ahmad, salah seorang warga yang tinggal di sekitar situ mengakui adanya mitos tentang Si Kohkol ini. Dia mengatakan, dinamakan Si Kohkol, karena menurut warga yang pernah melihatnya, ikan jenis Deleg ini bentuk dan besarnya mirip kohkol atau kentongan.
Menurut cerita dari mulut ke mu­lut, kata Ahmad, ke­munculan Si Koh­kol ini ditan­dai dengan kemunculan ikan-ikan kecil di permu­ka­an situ. “Pokok­nya, jika di per­mu­kaan situ ba­nyak sekali ikan-ikan kecil, maka sebagian warga percaya bahwa saat itu Si Kohkol sedang berada di Situ Cibeureum ini,” katanya.
Kuncen Situ Cibeureum, Atang (60) membenarkan tentang cerita Si Kohkol ini. Menurutnya, Si Kohkol ini tidak berdiam diri di Situ Cibeureum saja, melainkan “ngider” ke setiap situ yang berada di wilayah Pri­angan Timur. "Di Situ Ageung (Gede) juga sering muncul, termasuk di Situ Sanghiyang dan Panjalu," ujarnya.
Kendati demikian, untuk mengetahui ada tidaknya Si Kohkol di Situ Cibeureum, dapat ditandai kalau air situ mendadak bergelombang dan munculnya ikan-ikan kecil.
"Kalau ada Si Kohkol, para pencari ikan pasti ma­rema,” katanya.
Si Kohkol ini, lanjut Atang, biasanya berada di pinggiran situ. Berbeda de­ngan Si Layung yang suka di tengah situ. “Dan seperti biasa, kalau musim kemarau tiba, Si Kohkol juga tidak tahu kemana pergi­nya. Dia akan pergi ke situ yang airnya tidak surut,” katanya.
Tak hanya Si Kohkol dan Si Layung, di Situ Cibeu­reum ini terdapat pula mi­tos tentang keberadaan “em­bel” yang kerap mema­kan korban. Umumnya, ka­ta “embel” ini berupa rawa. Namun di Situ Cibeu­reum ini, nama “embel” diam­bil untuk meng­gambar­kan pusat mata air situ ini.
Atang menerangkan, terdapat tiga titik “embel’ di Situ Cibeureum ini, yakni di tengah, bakung dan pinggir situ dekat bahu jalan raya. Siapapun yang masuk ke daerah “embel” tersebut, tutur Atang, bisa tersedot dan tenggelam ditelan air.
“Embel tersebut dapat menyedot benda keras diatasnya. Makana, warga nu terangeun mah tara wani-wani ancrub ka situ," jelasnya. (Bersambung)***

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum ( 2 )

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum ( 2 )


Laporan : Jani Noor
Wartawan HU. Kabar Priangan

Si Layung Muncul, Situ Cibeureum Memerah

SEJAK terbentuk menjadi situ, awalnya Situ Cibeureum ini tak memiliki nama. Masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan situ saja, tanpa ada sebutan lain. Na­ma Situ Cibeureum melekat gara-gara di waktu-waktu tertentu, air situ berubah warnanya menjadi kemerah-merahan.
Kuncen Situ Cibeureum, Atang (60) mengatakan, berdasarkan cerita yang diwariskan oleh leluhurnya, nama Situ Cibeureum ini lahir karena di waktu-waktu tertentu, air situ kerap berubah warna menjadi kemerah-merahan.
Bahkan dari nama situ Cibeureum inilah, akhirnya daerah di lingkungan itupun namanya menjadi Cibeureum. Kini, nama Cibeureum menjadi nama salah satu kecamatan di wilayah Kota Tasikmalaya.
Kuncen Atang melanjutkan, menurut cerita orangtuanya, awal nama Cibeureum melekat ketika pada suatu saat air situ berubah warnanya menjadi kemerah-merahan. Masya­ra­kat yang biasa mencari ikan di situ inipun menjadi kaget atas perubahan warna air situ ini.
Bahkan menurut cerita, kata dia, saat air situ itu berwarna merah, warga setempat tak ada yang berani untuk memancing atau menjala ikan di situ ini. "Waktos eta mah dugi ka teu aya nu wantun ngarusep atawa nu ngajaring oge, margi beureumna cai situ teh siga beureumna geutih," terang Atang.
Sejak kejadian memerahnya warna air situ, kata Atang, berkembang pula cerita yang menyebutkan bahwa di situ ini terdapat ikan yang menjadi penghuni situ. Ikan tersebut terkenal dengan sebutan “Si Layung”.
Menurut Atang, Si Layung berupa Ikan Mas yang ukurannya sebesar “tampir” (alat penyaring beras). Ke­munculan Si Layung ini akan didahului dengan memerahnya air situ. Bahkan selain ditandai dengan me­me­rahnya air situ, kemunculan Si Layung pun akan ditandai dengan adanya gelombang seperti ombak.
"Gandeng we cai teh pak bari warnana ge beureum. Panginten tina beureumna eta nu mangaruhan situ, da si layung teh sapertos lauk emas," paparnya.
Atang melanjutkan, Si Layung kerap menampakkan diri kalau tiba musim hujan. Karena air situ waktu itu akan tampak indah kalau tersinari matahari. "Sok munculna mah jam 11 siang, nu dingawitan ku beureumna cai," ungkap Atang.
Nah, sejak itulah, kata Atang, situ tersebut disebut Situ Cibeureum karena airnya kerap berwarna kemerah-merahan (beureum) . “Dan yang memerahkannya itu Si Layung. Bagi ma­syarakat dewasa ini, tidak heran lagi dengan kemunculan Si Layung,” katanya.
Setiap tengah hari atau malam hari ketika tersinari b­ulan, air situ akan tampak memerah. Kalau air situ sudah memerah seperti itu, kata dia, sudah dipastikan adanya Si Layung yang memberitahukan kepada warga bahwa dia tetap "ngageugeuh" situ.
"Mangga wae aya nu tia­sa ngala mah. Da si la­yung mah pami halodo teh duka kamana angkatna. Saurna mah mapay-mapay situ we. Istilahna mah ngontrol situ nu sanes. Pan di Tasik teh seueur situ," tuturnya. (Ber­sambung)***

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum (1)

Menelusuri Mitos Situ Cibeureum (1)


Laporan : Jani Noor
Wartawan HU. Kabar Priangan

Ki Bagus Djamri Bermimpi Harus Membuat Taman

Situ Cibeureum yang berada di Kampung Tamansari, Kel. Tamanjaya, Kec. Tamansari, Kota Tasikmalaya, merupakan salah satu situ yang menjadi kebanggaan warga Kota Tasikmalaya. Boleh dikata, tak ada satu pun warga Kota Tasikmalaya yang tak mengenal situ yang satu ini.
Kendati dari sudut pariwisata, situ ini belum bisa disebut sebagai objek wisata andalan, namun keberadaan Situ Beureum sangat berarti bagi warga di sekitarnya. Dari situ inilah, nasib ratusan hektar sawah dan kolam ikan bergantung.
Terlepas dari potensinya yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, ternyata Situ Cibeureum menyimpan cerita tersendiri. Apalagi di Nusa Pangepulan, yaitu daratan yang berada di tengah-tengah situ, terdapat sejumlah makam keramat, termasuk makam Ki Bagus Djamri yang konon disebut-sebut sebagai tokoh pertama yang membuat Situ Cibeureum.
Nusa Pangepulan sendiri, saat ini dikenal sebagai Bumi Perkemahan yang kerap dijadikan acara kegiatan Pramuka di Kota/Kab. Tasikmalaya era Jaman Bupati Tasikmalaya dijabat oleh Adang Roosman (almarhum).
Menurut Kuncen Situ Cibeureum, Atang (60), sekitar 500 tahun lalu atau sekitar abad 15 Masehi, tinggallah seorang tokoh tua di era kebataraan Galunggung, yakni seorang tokoh agama jaman Hindu yang dikenal dengan sebutan Ki Bagus Djamri.
Beliau tidak diceritakan asalnya darimana, tetapi berniat menyepi di suatu daerah Pegunungan untuk mendekatkan diri pada sang Maha Kuasa. Tibalah Ki Bagus Djamri itu di suatu tempat yang menurutnya sama persis dengan yang diimpikan, yaitu sebuah pegunungan yang memiliki kolam (Dalam Bahasa Sunda disebut Balong).
Suatu hari, Ki Bagus Djamri bermimpi bahwa dia harus membuat taman yang penuh dengan bebungaan di lokasi dekat kolam. Dalam mimpi itupun, dia harus medirikan gubuk di suatu bukit yang disebut Nusa “pangepulan” (Perkumpulan).
Ki Bagus Djamri pun melaksanakan perintah yang muncul dari mimpinya itu. Dia membangun sebuah taman, lengkap dengan tempat untuk berkumpul di tempat yang dekat dengan kolam tersebut.
Lama kelamaan, kolam tersebut membesar dan air terus melimpah sehingga membanjiri wilayah itu. Namun, bagi Ki Bagus Djamzri karena tinggal disuatu Nusa Pangepulan tadi, dia tidak hanyut dalam air. Air hanya mengelilingi nusa, seperti halnya nusa di Situ Panjalu Ciamis.
Akhirnya, kolam yang tadinya kecil ini membentuk menjadi sebuah situ yang kemudian dinamai Situ Cibeureum. Ki Bagus kemudian mengundang para penduduk lain untuk tinggal di daerah yang berdekatan dengan situ. Bahkan, Nusa Pangepulan yang dulu hanya didiami seorang diri oleh Ki Bagus Djamri mulai ramai didatangi tokoh lain.
Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya sejumlah makam keramat yang mengelilingi makam Ki Bagus Djamri. Keberadaan sejumlah makam itu membuktikan bahwa Nusa Pangepulan ini pernah dijadikan sebagai tempat tinggal.
Menurut Atang, di Nusa Pangepulan itu, selain terdapat makam Ki Bagus Djamri, terdapat pula makam Syeh Majagung, Nyi Dambawati, Sugrianingrat, Nyi Ratnaningrum dan Nyi Ratnawulan, bangsawan di era Padjajaran.
"Nya kapungkur mah nu dipilari teh tempat nu seueur caina sebagai sumber kehidupan. Sareng eta nusa disebat pangepulan ge margina tempat ngumpul tokoh kapungkur," kata Atang.(Bersambung)***

Menelusuri Goa Anteg, Cikal Bakal Tasikmalaya (4-Habis)

Kuncen Menunggu Janji Bupati Uu


Menelusuri Goa Anteg, Cikal Bakal Tasikmalaya (4-Habis)
SARANA menuju Goa Anteg Kampung Sukapura sangatlah memprihatinkan. Akses jalan sangat rusak yang hanya bisa di­lalui roda dua (itupun motor Trail Ad­venture), sarana penunjang kehidupan pun masih serba sulit. Selain itu perekoniman warga belum meningkat, air bersih dan fasilitas kesehatan, termasuk listrik belum sepenuhnya didukung oleh Pemkab Tasik­malaya.
Padahal, situs sejarah Goa Anteg tersebut sangat berpotensi menjadi objek wisata budaya yang bernilai pelestarian sejarah tinggi, sebagai cikal bakal berdirinya Peme­rintah Tasikmalaya setelah Kerajaan Ga­lunggung.
Instalasi listrik pun, kata Utang Jumena, warga setempat, baru terpasang setahun lalu. Padahal telah terpasang tiang sejak tahun 2010.
“Mung hurungna mah ahir tahun 2011-an lah,” terangnya.
Akan tetapi, yang paling dibutuhkan warga Kampung Sukapura saat ini adalah perbaikan jalan. Pasalnya, Jalan Raya Bengkok Salopa sebagai satu-satunya akses belum bisa dilalui roda empat. Apalagi sebelum tahun 2000, untuk ke Goa Anteg harus melalui jalan setapak. “Kedah di aspal, tapi kualitasna nu sae,” timpal Kuncen Goa Anteg, Dede Abdul Karim.
Perjalanan menuju Goa Anteg pun sangatlah melelahkan. Jika mengendarai roda dua saja akan memakan waktu hampir dua jam. Itupun ditempuh dari jalan raya pusat Kecamatan Gunungtanjung yang berjarak 10 km sampai Jalan Raya Bengkok. Dari Bengkok, kita harus menelusuri pegunungan 10 km lagi dengan kondisi jalan berbatu dengan lintasan naik turun pegunungan.
Bupati Tasikmalaya H. Uu Ruzhanul Ulum pernah mengunjungi situs sejarah Goa Anteg tersebut. Saat itu, kata Kuncen Dede, Uu singgah ke Goa ketika Pilkada. Bahkan menjanjikan akan memperbaiki akses jalan ke Kampung Sukapura kalau ia terpilih menjadi Bupati Tasikmalaya.
Kendati begitu, kata Dede, janji tinggallah janji, pasalnya “Pak Uu” sepertinya sibuk sehingga lupa ke Kampung Sukapura. “Kantos oge masihkeun proposal hoyong ngadangdosan Masjid nu pas lawang guha, tapi dugi ka ayeuna teu acan aya buktosna,” terang Dede.
Jumlah penduduk Kampung Sukapura sendiri, lanjut Dede, kurang lebih 350 jiwa, dengan rata-rata bermata pencaharian sebagai petani. (Jani Noor/”KP”)***

Menelusuri Goa Anteg, Cikal Bakal Tasikmalaya (2)

Ada Pusaka yang Telah Membatu

Menelusuri Goa Anteg, Cikal Bakal Tasikmalaya (2)

SEBELUM memasuki Goa, Kuncen Goa Anteg, Dede Abdul Karim, terle­bih dahulu mengumandangkan azan. Lalu, menuruni bebatuan Goa sambil melafalkan Basmallah. Dan persis di 5 me­ter pertama pintu Goa, kita akan men­jumpai pusaka peninggalan Peme­rintahan Sukakerta, yakni setumpuk padi atau “Geugeusan Pare”.
Tidak hanya itu, terdapat juga ma­kam Istri Prabu Siliwangi, Nyi Mas Su­bang Larang dengan Gorden di atasnya yang telah membatu, tetapi masih terlihat menyerupai Gorden.
Perjalanan pun berlanjut, kira-kira 5 meter ke depan, satu bebatuan bekas Gapura kerajaan menyambut pengunjung dengan ukiran Kuda di atasnya.
Selepas itu, “KP” pun harus memasuki lubang sempit seukuran tubuh de­ngan jalan berbelok-belok dan harus me­nuruni sebuah tangga untuk sampai ke sebuah Goa dengan luas sekitar 20 x 20 meter.
“Guha nu ieu mah lalega, sapertos mendaki gunung wae,” ucap Dede.
Dalam Goa yang sangat luas itu lah, kita akan dikenalkan kembali pada peninggalan lain seperti “Cai Kahuripan, Pabeasan, Beunde Kabuyutan atau Goong, bekas Menara Masjid, Kujang Prabu Siliwangi serta Kujang Syeh Maulana Ratu Galuh”.
Akan tetapi, pusaka-pusaka itu telah membatu, meskipun masih terlihat mirip dengan aslinya. Misal, menara Masjid masih terlihat seperti menara dewasa ini, juga sebuah Kujang yang warnanya hitam keemasan melekat di bebatuan.
“Oge Korsi Gading Gi­lang Kencana, lambang Bu­rung Garuda dan Peta Su­kapura atau Ta­sikma­la­ya,­” ­papar Dede.
Untuk mengetahui dari mana asal-muasal benda-benda Pusaka tersebut, Dede pun mengungkapkan, adanya peninggalan itu sebagai petunjuk sejarah bahwa ada kehidupan yang pernah menghuni Goa Anteg.
“Taun ‘80-an mah, buku sejarah na masih aya. Tapi waktos eta teh ditambut ku Jenderal Sudomo sareng Letjen Syafri dicandak ka Jakarta. Saurna mah tos disimpen di Musium Jakarta,” kata Dede. (Jani Noor/”KP”)***

Menelusuri Goa Anteg, Cikal Bakal Tasikmalaya (1)

Menelusuri Goa Anteg, Cikal Bakal Tasikmalaya (1)

Banyak Terdapat Petilasan Prabu
TELAH diketahui, sejarah terbentuknya Pe­me­rintahan Tasikmalaya dimulai dari adanya suatu Pemerintahan Kebataraan yang berpusat di sekitar Galunggung dengan penguasa pertama, Batari Hyang pada Abad 11 Masehi.
Periode selanjutnya adalah periode Pemerintahan Sukakerta dengan ibukota Dayeuh Tengah (Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sezaman dengan Prabu Siliwangi sekitar abad 14 Masehi.
Dan, untuk mengetahui sisa peninggalan Pemerintahan Sukakerta tersebut, “KP” mencoba menulusuri Goa Anteg di Kampung Sukapura RT 16/RW 8, Desa Malatisuka, ­Keca­matan Gunungtanjung, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (25/3).
Dengan menempuh perjalanan hampir dua jam dari pusat Kecamatan Gunungtanjung, kondisi jalan yang sangat rusak dengan jarak 20 kilometer dari jalan raya, tibalah “KP” di suatu Kampung dengan nama Kampung Sukapura. Dan, setelah bertanya kesana kemari, akhirnya berhasil menemui Kuncen Goa, Dede Abdul Karim (41).
Menurut Kuncen dari Generasi ke-11 ini, nama “Anteg” berarti keteguhan, atau dalam bahasa Sunda “Kapancegan” atau dalam bahasa Arabnya, “ketauhidan”. Sejarahnya, ujar Dede, Putra Prabu Siliwangi yakni Prabu Kiansantang pulang dari Mekah, lalu membuka kampung baru dan menyebarkan Islam.
“Tah ti harita lembur eta dinamian Anteg, nu hartina ‘Kapancegan’ kana ngabakti ka Allah,” kata Dede.
Setahap demi setahap, penganut Islam pun bertambah, sehingga “Anteg” yang dulu dikenal suatu kampung berubah menjadi Sukapura.
“Ari inti harti Sukapura mah ngenalkeun dirina supaya kenal ka Alloh-na. Ku kituna, ngaran Sukapura teh lain di Tasik wae, tapi di Cirebon jeung di Manonjaya oge aya nu hartina tempat jang ngadeukeutkeun ka Alloh,” terang Dede.
Di dalam Goa Anteg, tutur Dede, terdapat berbagai petilasan zaman Prabu Siliwangi dan Kiansantang. Bahkan, petilasan Goa tersebut menyimpan aneka peninggalan kerajaan yang sudah berubah bentuk, membatu seiring perubahan alam.
“Tapi tiasa katingal keneh wangunna mah meh sami,” ucap dia.
Adapun panjang Goa sendiri, tuturnya, sekitar 500 meter ke bawah tanah dengan medan yang berbelok-belok, naik turun seperti di pegunungan, bebatuan curam dan memiliki lubang penyambung Goa yang amat sempit serta tanpa penerangan. Kendati demikian, Dede akan memandu siapa pun untuk menelusuri setiap jengkal Goa demi mengetahu peninggalan Pemerintahan Sukakerta tersebut. (Jani Noor/”KP”)***