Senin, 05 Agustus 2013
Sambut Idul Fitri dengan Protes Jalan
MUGARSARI, (KT).-
Aksi protes terhadap jalan rusak di wilayah Kecamatan Tamansari tidak kunjung surut. Kali ini, warga Kampung Nyantong Kelurahan Mugarsari memasang spanduk protes sebagai kecaman atas penghotmikan yang tertunda.
Spanduk dengan tulisan 'Selamat Datang di Jalan Tak Bertuan' serta ancaman tidak akan membayar PBB, persis terpasang 10 meter dari Kantor Kelurahan. Dan menurut warga, spanduk tersebut telah lama dipasang sejak tiga minggu lalu.
Warga Kampung Nyantong Kelurahan Mugarasari, Ali mengatakan, spanduk tersebut sebagai bentuk kekecewaan warga karena penghotmikan jalan tidak dilanjutkan. Bahkan warga akan melakukan demo kembali jika setelah Idul Fitri tidak kunjung diperbaiki. "Ari saur pemborongna mah, benten damelan. Janten mung dugi kadieu," kata Ali sambil menunjuk Jalan yang separuhnya belum di hotmik.
Tatang, warga yang sama mengaku banyak sekali unek-unek terkait jalan. Salah satunya berdasar keterangan dari pihak Kelurahan bahwa Jalan Mugarsari ke Sumelap mendapat prioritas di 2014. Namun, perihal kejadian ini, Tatang juga tidak tahu kenapa karena kabar yang berkembang akibat alasan politis. "Hiji conto, maenyak jalan hareupeun dewan teu di hotmik," ucapnya.
Kendati demikian, Tatang tidak menyoal masalah politik tadi tapi aneh saja ada perbaikan sepotong sepotong. "Sagalibna we, maenyak ngahotmik emblog-emlogan," terangnya.
Hingga kemarin Senin (5/8), "KP" belum bisa memintai keterangan kepada Dinas terkait Binamarga, pasalnya selain telah libur, juga ketika menghubungi Kadis Binamarga, Ivan Dicksan, hapenya tidak aktif.
Jaya, Pehoby Motor Bektu Termuda di Indonesia.
TAMANJAYA, (KT).-
Jika anda kerap melewati Jalan Gegernoong (Pasar/Terminal 010), tentu tidak asing lagi jika menjumpai seorang anak usia 12 tahunan tengah menunggangi motor bebek 70. Dengan piawainya, anak itu menarik gas pedal motor tanpa menghiraukan padatnya kendaraan.
Dia, Jaya Made Muti, putra sulung Maman atau akrab disapa 'si jabrig' ini mengaku telah bisa naik motor sejak usia 3 tahun. Saat itu, abahnya, si jabrig kerap membonceng Jaya meski sekedar 'ngabuburit'.
Jaya menuturkan, orang tuanya memang pehoby motor bebek 70. Sehingga, Ia pun kebawa menyukai motor made ini jepang 'heubeul' itu seperti menyukai orang tuanya. Selama mengenal motor bektu itu pun, Jaya masuk organisasi otomotif Honda Kolot Tasik (HKT) dan tercatat sebagai anggota HKT termuda di Tasikmalaya bahkan Indonesia.
Berbagai event telah ia ikuti, seperti di Jambore Honda Kolot tingkat Nasional yang digelar di Lapangan Udara Wiriadinata Tasikmalaya. Berbekal motor yang 'kinclong', kehadiran siswa kelas 6 SDN Setiamuya II ini kerap menjadi perhatian pecinta bektu lainnya. "Emang abi pang alitna, tapi da tos biasa ayeuna mah soalna aya abah," ujarnya polos.
Dibulan Ramadan ini pun, tunggangan si hijaunya itu menjadi teman Jaya memburu maghrib. Dengan menelusuri tiap ruas Jalan, Jaya berani menembus keramaian.
Namun, pengalaman selama menunggangi bebek tujuh puluhnya itu bukan tanpa tantangan. Karena masih belum boleh menaiki motor, Jaya kerap takut ditilang polisi kalau ke Jalan raya. "Kantos geubis sareng rerencangan, waktos eta abi di bonceng ku akmal jeung teguh. Di terminal gegernoong nabrak motor nu sanes dugi ka geubis. Abi langsung lumpat wae da bilih aya polisi," ungkap Jaya.
Jaya pun bercita-cita ingin jadi pegiat otomotif sejati kelak, dalam artian bukan geng motor tetapi pehoby motor kolot dengan dasar keindahan.*
Langganan:
Postingan (Atom)

