Kamis, 01 Agustus 2013
Pemkot Terus Minimalisasi Penderita Bibir Sumbing
TAMANSARI, (KP).-
Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Dinas Kesehatan dan stakeholder terkait terus berupaya meminimalisasi penderita kelainan bibir sumbing dan celah langit-langit.
Operasi dan sosialisasi akan terus dilakukan agar penderita bisa kembali tersenyum.
Demikian diungkapkan Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman di sela-sela Bakti Sosial Operasi Celah Bibir dan Langit-langit RS. Islam Hj. Siti Muniroh di Kecamatan Taman Sari Kota Tasikmalaya, Sabtu (23/3).
"Menurut data dari WHO (organisasi kesehatan PBB), di Indonesia satu dari 500 bayi yang melahirkan menderita kelainan celah bibir dan langit-langit. Rasio ini lebih besar dibandingkan di Eropa 1:700 dan Afrika 1:1000. Untuk itu bakti sosial seperti ini harus terus dilakukan untuk menekan jumlah penderita," katanya seusai meninjau ke ruangan operasi RS. Islam Hj. Siti Muniroh.
Mencari penderita kelainan dibagian mulut itu, kata dia, memang bukan perkara yang mudah. Karena persepsi di kalangan masyarakat menganggap penderita menjadi aib sebuah keluarga. "Justru itu, anggapan itu harus diubah. Kita lakukan operasi gratis agar mereka bisa kembali tersenyum dan percaya diri melakukan aktifitas," katanya.
Bakti sosial yang dilakukan atas kerjasama RS. Islam Hj. Siti Muniroh, Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit (YPPCBL) Indonesia dan Dinas Kesehatan Tasikmalaya tercatat 58 penderita dioperasi.
Namun setelah diobservasi oleh tim medis yang berjumlah 16 orang, ada 6 orang yang belum bisa dioperasi karena tengah terserang flu.
"Saya mendapat informasi, selama 13 kali diadakan operasi seperti ini 8 diantaranya dilakukan di sini. Ini patut diapresiasi dan terus digelorakan," kata Sekertaris Umum YPPCBL Indonesia, Drg. Siti Abidah.
Dari jumlah penderita yang dapat dioperasi, kata dia, ada beberapa diantaranya harus dilakukan operasi kedua.
Karena, untuk mengembalikan celah langit membutuhkan waktu.
"Tergantung dari asupan gizi pula. Misalkan seorang anak terdapat kelainan pada bibirnya saja. Sekali operasi saja biasanya cukup, berbeda dengan langit-langit yang membutuhkan waktu. Rentang waktu operasinya juga bisa berbulan-bulan," jelasnya.
"Seandainya sudah terlihat normal pun, idealnya memang ikut terapi agar cara berbicaranya kembali normal. Tetapi tidak banyak yang melakukan itu, padahal kami di Bandung menyediakan speech therapy secara gratis. Tinggal datang saja," tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama RSI Hj. Siti Muniroh, Ii Supriatna mengucapkan terima kasih kepada Pemkot atas bantuan dan dukungan untuk meminimalisasi penderita kelainan celah bibir dan langit untuk masyarakat tidak mampu. Pada kesempatan yang sama juga, Wali Kota Tasikmalaya melakukan gunting pita sebagai simbol peresmian ruang VVIP RSI Hj. Siti Muniroh.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar